Beranda Ekonomi Ekonomi Kreatif Alibaba Dari Desa Jadi Raksasa Digital Dunia

Alibaba Dari Desa Jadi Raksasa Digital Dunia

40
0
BAGIKAN

Bisnis.com, JAKARTA — Bainiu dan Leping hanyalah dua desa kecil di Kabupaten Qianchuan, Provinsi Zhejiang, China. Namun, seorang staf di Leping bisa membawa pulang gaji Rp13 juta per bulan.

Di Bainu, ada 68 toko daring yang secara total mampu membukukan nilai penjualan per tahun RMB350 juta (US$55,7 juta) atau jika dirupiahkan mencapai Rp761 miliar. Warga di dua desa itu telah terbiasa menggunakan platform milik Alibaba, yaitu Taobao (www.taobao.com) untuk berdagang.

Di desa Bainiu, yang terkenal dengan produk kacang kenari, warga menggunakan Taobao untuk memasarkan produk olahan ke luar desa tersebut.

Dengan teknologi itu, mereka dapat memperoleh penghasilan yang cukup tanpa harus bekerja di kota besar, seperti Huangzhou, ibukota Zhejiang ataupun Beijing, ibukota China.

Pada Selasa (17/4) sore, sejumlah wartawan media massa Indonesia, termasuk Bisnis.com, melihat langsung Bainiu dan Leping dari dekat.

Kunjungan ini terjadi atas undangan korporasi raksasa digital dunia asal China, Alibaba, untuk melihat bagaimana sistem perdagangan elektronik (dagang-el) mereka digunakan oleh warga desa di China.

Seorang perempuan berusia 28 tahun, Xu Bing Bing, contohnya. Dia memiliki usaha memasok kacang kenari. Dia bekerja membeli kacang dari para petani di desa sekitar, lalu memasoknya kepada para pengolah.

Produk kacang olahan itu kemudian dipasarkan melalui Taobao.

Dia mengenal Taobao dari teman-temannya yang telah menggunakan platform yang sama. Sejak 2007, Xu mendapatkan penghasilan dengan berdagang dan menjadi bagian dari ekosistem bisnis ini tanpa harus bekerja di kota besar. “Saya masih tinggal bersama orang tua,” katanya.

Taobao berhasil memicu geliat bisnis, sekaligus mendongkrak penjualan di Bainiu. Di desa ini, pada 1997, hanya ada lima toko dengan pendapatan yang tak seberapa. Namun, lihat kondisi sekarang. Toko tumbuh hingga 68 unit, dengan pendapatan mencapai Rp761 miliar.

Kegiatan bisnis yang didukung oleh teknologi ini diklaim telah membuka 400 lapangan pekerjaan. Dengan demikian, warga desa tidak perlu meninggalkan keluarga di desa demi bekerja di kota.

Selain Bainiu, kami juga mengunjungi desa lainnya, yaitu Leping. Sebagai gambaran, 600 juta dari 1,4 miliar penduduk China tinggal di desa. Di Leping, kami diajak mengunjungi sebuah pusat layanan yang didirikan oleh Alibaba.

Alibaba menjadikan tempat ini sebagai lokasi “antar bola”. Pusat layanan ini adalah tempat barang-barang yang dibeli melalui Taobao parkir untuk sementara. Penjual mengirim barang ke pusat layanan tersebut untuk didistribusikan ke pembeli yang jarak tempat tinggalnya berjauhan satu sama lain.

Sebelum pusat layanan ini berdiri, warga desa Leping perlu menempuh jarak 20 kilometer untuk mengambil barang yang dibeli secara daring. Sejak 2014, warga desa Leping hanya perlu menempuh jarak 3 kilometer untuk mengambil atau mengirim barang.

Keberadaan pusat layanan memudahkan warga desa untuk membeli barang secara daring. Desa Leping memiliki 2.000 penduduk. Bukan hanya kemudahan dalam membeli barang yang kebanyakan barang kebutuhan sehari-hari, pusat layanan juga menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga desa.

Salah satu warga desa, Zheng Weiling, memilih bekerja di pusat layanan milik Alibaba tersebut daripada bekerja di kota besar di China. Dia sempat bekerja di salah satu kota besar, Shenzen. Namun, Zheng memutuskan untuk keluar kerja dan tinggal di kampung halaman suaminya di Leping.

Bekerja di desa membuatnya memiliki banyak waktu bagi keluarga. Dia juga dapat bekerja secara fleksibel atau tidak dituntut oleh sistem ketat yang dianut oleh kantor di kota besar. Soal penghasilan, jangan tercengang. Zheng yang hanya seorang staf mengantongi penghasilan RMB6.000 atau sekitar Rp13 juta per bulan.

“Selain itu, biaya hidup di sini rendah,” katanya. Di kota besar, Zheng harus mengeluarkan ongkos hidup lebih besar, termasuk biaya sewa tempat tinggal.

Alibaba menyatakan bahwa daerah perdesaan di China memiliki beragam peluang besar yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan dagang-el.

Tingkat penetrasi internet di kawasan perdesaan China hanya 35,4% atau lebih rendah dibandingkan dengan kawasan urban sebesar 71%. Kendati demikian, porsi pengguna internet di perdesaan terus meningkat. Persentase pengguna internet di desa naik 4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Penggunaan internet di kawasan perdesaan China sangat terbatas karena rintangan geografis dan infrastruktur yang mengakibatkan biaya distribusi internet ke wilayah terpencil sangat mahal. Alibaba menyatakan ingin mengatasi keterbatasan ini dan mempromosikan perdagangan di desa-desa Tiongkok melalui program Rural Taobao atau program “dagang-el masuk desa”.

Alibaba berkomitmen menginvestasikan US$1,6 miliar atau lebih dari Rp10 triliun selama 5 tahun dalam kurun 2014—2019 untuk program ini.

Kunjungan ke China kali ini mengingatkan saya kepada situasi di Indonesia. Di Tanah Air, banyak anak-anak muda yang memilih untuk bekerja di kota besar daripada di desa. Alasannya rasional: kesempatan untuk mendapatkan pendapatan tinggi dianggap lebih besar di kota daripada desa.

Suatu riset bertajuk The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential yang dirilis pada 2012 oleh konsultan internasional, McKinsey menyatakan bahwa proporsi orang Indonesia yang tinggal di kawasan urban (kota besar) dapat mencapai 71% pada 2030 atau meningkat 53% pada 5 tahun lalu.

Riset itu juga memprediksi 32 juta orang Indonesia akan bermigrasi dari kawasan perdesaan ke kawasan urban. Apabila prediksi itu tepat, apakah situasi ini sesuatu yang baik atau buruk?

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berkampanye dengan platform Nawacita. Poin ketiga dan sembilan agenda tersebut adalah “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Komitmen tersebut berupaya dipenuhi oleh Jokowi-JK melalui pembangunan infrastruktur di daerah terluar, termasuk jaringan telekomunikasi. Pemerintah punya program Palapa Ring untuk memastikan tulang punggung jaringan internet tersedia di seluruh penjuru Tanah Air. Ada juga program pembangunan base transceiver station (BTS) di daerah terluar.

Setelah seluruh penjuru Indonesia terhubung, saatnya membangun masyarakatnya. Untuk mewujudkan ekonomi digital, Indonesia perlu jutaan wirausahawan digital.

Apakah yang dilakukan oleh Alibaba di China bisa diterapkan di Indonesia?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here